Tampilkan postingan dengan label coursework. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coursework. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Januari 2015

Tugas Evolusi Evolusi Manusia ; Evolusi Yang Telah Terjadi Dan Evolusi Di Masa Depan


EVOLUSI MANUSIA, ketika kita berpikir tentang hal itu, pikiran pertama yang muncul adalah pro-kontra ribuan tahun silam. Pro-kontra itupun masih berlanjut hingga saat ini. Tetapi yang tetap memainkan peran dalam setiap pro-kontra adalah teori evolusi Charles Darwin. Darwin mengemukakan gagasannya tentang teori evolusi yang tertuang dalam bukunya “On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races”. Banyak teori-teori yang menentang teori Darwin. Dan tidak sedikit dari mereka yang menenentang dengan alibi bahwa teori evolusi adalah “manusia berasal dari kera” padahal sejatinya tidak demikian yang dinyatakan oleh Darwin dalam buku tersebut. Hal ini diperkuat oleh Clark (2005) yang menyatakan bahwa evolusi tidaklah berkisar pada manusia dan kera saja, terlebih manusia bukanlah keturunan langsung dari kera seperti yang dipahami masyarakat awam.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, teori evolusi (evolusi biologi/organik) saat ini terus mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi ini. Mulai dari teori evolusi masa Darwin hingga saat ini pada masa evolusi modern yang memandang dan mengkaji teori evolusi dari berbagai aspek dan pendekatan. Tapi tidak hanya mengalami perkembangan, tampaknya manusia melakukannya lebih cepat dari sebelumnya. Dalam 10.000 tahun terakhir, laju evolusi telah berlangsung lebih cepat 100 kali, menciptakan lebih banyak mutasi dalam gen manusia.

Kemajuan teknologi kini menjadi salah satu faktor yang memungkinkan akan terjadinya evolusi berlanjut pada manusia. Teknologi yang sedikit-banyaknya memanjakan manusi. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali manusia berjalan beriringan dengan teknologi. Oleh karena itu, jika kita beradaptasi dengan baik, dalam artian selalu mengikuti teknologi yang terus berkembang, maka manusia bias mengalami beberapa perubahan nyata.

Evolusi dapat dibuktikan dengan membandingkan gen berbagai bangsa di dunia, bisa dilihat sejauh mana manusia sudah berevolusi sejak spesies ini pertama kali muncul. Yang paling jelas bisa dilihat adalah warna kulit manusia yang berbeda-beda di berbagai penjuru dunia (Widodo, 2003). Beberapa bukti lain bahwa manusia telah berevolusi adalah bagaimana metabolisme manusia berevolusi agar bisa mencerna makanan yang di masa silam tidak bisa dicerna. Sebagai contoh adalah kemampuan manusia mencerna laktosa atau gula yang terkandung dalam susu. Sekitar 10.000 tahun yang silam sebelum manusia mengenal pertanian, manusia tidak bisa mencerna laktosa setelah usia menyusui. Sekarang toleransi terhadap laktosa di berbagai kawasan dunia bisa menjadi petunjuk untuk memahami sejarah pertanian di dunia. Sekitar 99% penduduk Irlandia mempunyai toleransi terhadap laktosa, sedangkan di Asia Tenggara yang tradisi pertaniannya relatif singkat, angka toleransi laktosa cuma 5%. Jadi jelas penemuan dan teknologi yang dikembangkan manusia di masa lalu, tidak membuat evolusi berhenti (Stearn & Hoekstra, 2003).

Nenek moyang kita memiliki rahang yang jauh lebih besar daripada rahang manusia kini, yang membantu mereka mengunyah makanan keras dari akar, kacang-kacangan dan daun. Satu set ketiga geraham diyakini menjadi jawaban evolusi untuk mengakomodasi kebiasaan makan nenek moyang kita. Saat ini, kita dapat menggunakan berbagai macam peralatan untuk memotong makanan yang besar & melunakkan makanan yang keras sehingga makanan menjadi lebih lembut dan lebih mudah untuk dikunyah. Sehingga sebagai hasilnya rahang-pun menjadi jauh lebih kecil. itulah kenapa gigi bungsu kita sering terasa sakit ketika tumbuh karena tidak cukup ruang untuk tumbuh. Seperti halnya usus buntu, gigi bungsu menjadi tidak berfungsi lagi (Guilfoile & Plum, 2004).

Manusia memiliki kemampuan untuk melawan penyakit. Seperti yang dikemukakan oleh sekelompok peneliti pada tahun 2007 bahwa sebanyak 1.800 gen yang ada manusia 40.000 tahun terakhir, banyak yang bertujuan untuk memerangi penyakit menular seperti malaria. Lebih dari selusin varian genetik baru yang memerangi malaria berkembang pesat di Afrika. Studi lain menemukan bahwa seleksi alam telah memilih para penghuni kota. Tinggal di kota menghasilkan varian genetik yang memungkinkan kita untuk lebih tahan terhadap penyakit seperti tuberkulosis dan lepra. Manusia masa depan mungkin lebih tahan terhadap diabetes dan penyakit jantung. Penyakit jantung dan diabetes adalah beberapa penyebab utama kematian di negara maju saat ini, sebagian karena diet modern tinggi lemak dan murah, kalori kosong. Oleh karena itu, saat ini ada tekanan yang cukup selektif dalam tempat untuk membuat manusia masa depan yang lebih baik disesuaikan dengan diet ini, dan dengan demikian lebih tahan terhadap penyakit ini (Guilfoile & Plum, 2004).

Terjadinya pencampuran gen antara populasi dari seluruh dunia berlangsung dengan cepat. Sebelumnya, karena keterbatasan transportasi, interaksi antara populasi yang berbeda dari dunia jauh lebih rendah. Dimasa kini, interaksi antara populasi terisolasi dunia juga meningkat. Perbedaan genetik diamati pada ras yang berbeda akhirnya akan menghilang seiring berjalannya waktu.

Evolusi cenderung mendukung penghapusan sifat-sifat yang tidak lagi diperlukan. Salah satu sifat yang merupakan kandidat utama untuk eliminasi adalah kekuatan fisik kita. Misalnya si pada “usus buntu” manusia. Selama evolusi, karena pola makan kita telah berubah, usus buntu menjadi kurang berguna. Apa yang sangat menarik adalah bahwa banyak teori evolusi percaya bahwa seleksi alam (saat mengeluarkan semua kemampuan usus buntu) memilih usus buntu yang lebih besar karena mereka cenderung menjadi meradang dan sakit. Jadi tidak seperti jari kelingking kaki, yang pada akhirnya mungkin lenyap dan sama-sama tidak berguna, usus buntu kemungkinan tetap berada dalam tubuh manusia, namun tanps fungsi yang dimilikinya. Manusia juga tidak lagi memerlukan otot yang kuat untuk melakukan prestasi kekuatan. Manusia kini memiliki mesin, dan alat-alat pintar lainnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa kita jauh lebih lemah dibandingkan dengan nenek moyang kita. Manusia di masa datang tersebut mungkin lebih mungil daripada kita saat ini. Untuk alasan yang sama, manusia masa depan mungkin juga telah melemahkan sistem kekebalan tubuh dan lebih rentan terhadap patogen. Teknologi medis modern dan penemuan antibiotik telah sangat meningkatkan kesehatan dan harapan hidup, tetapi mereka juga berarti membutuhkan sistem kekebalan tubuh kita untuk melakukan sedikit pekerjaan untuk membuat kita tetap sehat. Secara biologis, sistem kekebalan tubuh kita kurang diperlukan daripada mereka dulu. Oleh karena itu, manusia masa depan bisa menjadi lebih tergantung pada teknologi medis.

Berbagai bukti evolusi telah menunjukkan bahwa evolusi manusia telah terjadi di masa lalu, dan akan berlanjut hingga masa depan karena berbagai faktor yang memperngaruhinya.

Referensi

Clark, David. 2005. Molecular Biology. USA: Elsevier.
Guilfoile, P. & Plum, S . 2004. The Relationship Between Phenotype and Genotype. American Biology Teacher.
Stearn, S.C. & Hoekstra, R.F. 2003. Evolution an Introduction. New York: Oxford University Press.
Widodo, et. al. 2003. Bahan Ajar Evolusi. Program Semi-que IV. Jurusan Biologi FMIPA. Universitas Negeri Malang. Malang.


sumber gambar :
http://www.oakstone.co.uk/wp-content/uploads/2014/11/tnooz-robot-man.jpg



#Inggrit #Amedia #inggritAmedia #Evolusi #manusia #modern

Efek Zat Aditif dalam Makanan (Presentasi Tugas Mata Kuliah Gizi Kesehatan Hewan) 2014



#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #Efek #zat #aditif #makanan #gizi #kesehatan #hewan #ppt

Pelaksanaan Program Keilmuan KKN PPM Desa Sidomukti Kecamatan Margoyoso Pati Tahun 2014





#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #contoh #program #kkn #keilmuan #bidang #biologi #sidomukti #margoyoso #pati

Pola Perilaku Reproduksi Pada Hewan Jantan






#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #contoh #pola #tingkah #laku #reproduksi #hewan #jantan 

Kartu Kontrol Pelaksanaan Program Keilmuan (K1) KKN Desa Sidomukti Kecamatan Margoyoso Tahun 2014



#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #contoh #program #kkn #keilmuan #bidang #biologi #sidomukti #margoyoso #pati #kartu #kontrol #pelaksanaan #k1

Rencana Program KKN (Kuliah Kerja Nyata) Inggrit Amedia




#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #contoh #program #kkn #keilmuan #bidang #biologi #sidomukti #margoyoso #pati

Teknik Budidaya, Proses Panen, Dan Penanganan Pasca Panen Tanaman Selasih (Ocimum basilicum L.)

  #Inggrit #Amedia #InggritAmedia #teknik #budidaya #proses #panen #enanganan #pasca #panen #selasih #ocimum #basilicum

presentasi tugas mata kuliah Penanganan Pasca Panen

Kamis, 01 Januari 2015

LIJER PARFUM (Parfum Kulit Jeruk) Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Ekonomi Limbah Kulit Jeruk Citrus sinensis. L. Osbeck.) Oleh : Inggrit Amedia




Jeruk manis (Citrus sinensis. L. Osbeck.) termasuk dalam family Rutaceae, salah satu jenis citrus (Siburian, 2007). Tanaman ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis. Jeruk manis dapat beradaptasi dengan baik didaerah tropis pada ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut dan udara senantiasa lembab, serta mempunyai persyaratan air tertentu (Simbolon,2008). Jeruk manis banyak ditanam di daerah 20-400 LU dan 20-400 LS. Di daerah subtropis, ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 650 m dpl, sedangkan di sekitar khatulistiwa dapat ditanam sampai ketinggian 2.000 m dpl. Temperatur optimal pertumbuhannya antara 25-300C (Samson, 1986).

Buah jeruk memiliki komponen-komponen seperti flavedo, albedo, dan endocarp. Flavedo merupakan bagian yang memberikan warna pada kulit jeruk. Di dalam flavedo terkandung karoten yang memberi sifat warna kuning pada buah jeruk. Sekitar 60% karoten yang terdapat pada buah jeruk terdapat pada bagian ini. Di bagian ini juga terdapat gland yang mengandung minyak kulit jeruk. Albedo terletak di bawah flavedo. Albedo biasanya mempunyai lapisan yang tebal, putih dan seperti spon. Albedo terdiri atas sel-sel parenkim yang kaya akan substansi pektin dan hemiselulosa. Kombinasi antara albedo dan flavedo disebut pericarp yang sering dikenal sebagai kulit. Endocarp merupakan bagian buah yang dapat dimakan, di mana pada endocarp ini terdapat sejumlah segmen di dalamnya. Umumnya buah jeruk mempunyai 9-13 segmen. Di bagian dalam tiap-tiap segmen terdapat kantung sari buah (juice sacs) yang mempunyai membran relatif kuat dan mempunyai dinding sel tipis (Kurniawan, 2008).

Menurut Departemen Kesehatan RI (1989) Komposisi kimia per 100 gram buah jeruk manis antara lain karbohidrat (11 g), protein ( 0.8 g), lemak (0.2 g), kalsium (19 mg), fosfor (16 mg), vitamin A (190.0 SI), vitamin B (0,08 mg), vitamin C (49 mg) dan air (87,5 g). Komposisi buah jeruk terdiri dari bermacam - macam, diantaranya air 70-92 % (tergantung kualitas buah), gula, asam organik, asam amino, vitamin, zat warna, mineral dan lain-lain. Kandungan asam sitrat pada waktu cukup muda, tetapi setelah buah masak makin berkurang. Kandungan asam sitrat jeruk manis yang telah masak akan berkurang sampai duapertiga bagian (Pracaya, 2000).

Kulit buah jeruk manis tebalnya 0.3-0.5 cm, dari tepi berwarna kuning atau orange dan makin ke dalam berwarna putih kekuningan sampai putih, berdaging dan kuat melekat pada dinding buah (Rini, dkk., 2009). Kandungan kimia dalam kulit jeruk manis adalah saponin, tannin, flavonoid, dan terpenoid (Sari, 2008). Kulit buah jeruk manis memiliki bau yang khas aromatic dan rasa pahit yang mengandung minyak atsiri 90% yang berisikan limonin, glukosida-glukosida hesperidina, isohesperidin, auratiamarina, dan damar (Rini, dkk., 2009). Kulit buah jeruk segar mengandung sekitar 0,8% minyak atsiri dengan komponen utama sebagai berikut:  α-pinena (1,59%), β-pinena (7,29%), β-mirsena (4,59%), Oktanal (0,70%), Limonena (82,06%), Osimene (0,14%), 4-Thujanol (0,06%), 1-Oktanol(0,13%), β-Linalool (1,61%), α-limonena diepoksida (0,04%), 1,3,5-Tris (Metilena) sikloheptana (0,04), trans-p-2,8-Mentadien-1-ol (0,05), Sitronellal (0,13), 4-Metil-1-(1-Metiletil)-3-sikloheksen-1-ol (0,17), α-Terpineol (0,30),  trans-Piperitol (0,04), n-Dekanal (0,18), Î’-Sitronello l(0,13), Karvona (0,05), Perillal (0,06), Nonanal (0,03), Elemena (0,14), α-Kariofilena (0,06), aR-(1aα,7α,7aα,7bα)-1a,2,3,5,6,7,7a,7b-Oktahidro-1,1,7,7a-tetrametil-1H-siklopropana naftalena (0,09), α Farnesena (0,06), α-Elemena (0,21), Germakrena B (0,07) (Agusta, 2000).

Minyak atsiri adalah senyawa yang mudah menguap yang tidak larut dalam air. Minyak atsiri merupakan ekstrak alami dari tanaman, baik yang berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian, ataupun kulit buah. Minyak ini dikenal dengan nama minyak eteris, minyak esensial atau minyak terbang karena mengandung senyawa organik golongan terpen yang mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi. Minyak atsiri memiliki rasa getir (pungent taste) dan berbau wangi yang sesuai dengan bau tanaman aslinya (Yuliani  & Satuhu, 2012). Industri memanfaatkan minyak atsiri sebagai campuran farfum. Peran minyak atsiri dalam campuran bukan hanya memberi keharuman, tetapi juga sebagai pengikat bau atau pixative farfum (Simanihuruk, 2013).

Minyak atsiri jeruk dapat digunakan sebagai pengharum ruangan, bahan parfum, dan mengubah citra rasa makanan menjadi lebih menarik.  Selain itu, minyak atsiri jeruk juga memiliki manfaat kesehatan yang digunakan sebagai aroma terapi.  Aroma jeruk dapat menstabilkan system syaraf, menimbulkan perasaan senang dan tenang, meningkatkan nafsu makan, dan penyembuhan penyakit. Manfaat bagi kesehatan disebabkan adanya kandungan senyawa penyusun, antara lain : Limonen berfungsi melancarkan peredaran darah, meredakan radang tenggorok dan batuk serta menghambat sel kanker. Linalool, sitronel, terpineol, dan linalilasetat dapat bersifat sebagai penenang (sedatif) (Istianto & Muryati, 2014). Minyak kulit jeruk merupakan minyak aromatis yang terdapat pada gland di bagian kulit buah jeruk. Menurut Kurniawan, (2008), dalam minyak kulit jeruk umumnya terkandung limonene(95%), myrcene(2%), noctanal(1%), pinene(0,4%), linanool(0,3%), decanal(0,3%), sabiene(0,2%), geranial(0,1%), neral(0,1%), dodecanal(0,1%), dan senyawa-senyawa lainnya (0,5%)

Adanya kandungan minyak atsiri dalam kulit jeruk memungkinkan untuk meningkatkan nilai ekonomis limbah kulit jeruk.  Salah satunya dengan memanfaatkan kandungan minyak atsiri pada kulit jeruk menjadi parfum. Parfum berasal dari bahasa Latin yang berarti “per” “melalui” dan “fumum,” atau “asap.” Parfum kuno dibuat dengan mengekstraksi minyak alami dari tanaman melalui menekan dan mengukus. Minyak ini kemudian dibakar untuk mengharumkan udara. Saat ini, parfum paling digunakan untuk aroma sabun. Beberapa produk bahkan wangi dengan aroma industri untuk menutupi bau tak sedap atau muncul “wewangian”.

Ada beberapa cara teknik ekstraksi untuk mendapatkan minyak atsiri yaitu hydro distillation dan steam distilation. Rendemen yang didapat dengan proses hydro distillation sekitar 0,35-0,37 %, terkadang terjadi proses hidrolisis ester, dan produk minyaknya bercampur dengan hasil sampingan. Proses yang dilakukan untuk memperoleh minyak kulit jeruk terdiri dari 2 tahap yaitu perlakuan pendahuluan dan pemisahan minyak kulit jeruk. Perlakuan pendahuluan dilakukan dengan pengecilan ukuran (size reduction), dan pengeringan kulit jeruk. Untuk proses pengeringan sebaiknya dilakukan pada suhu rendah dengan menggunakan udara kering sebagai medium pengering supaya komposisi, dan aroma minyak kulit jeruk tidak berubah karena teroksidasi oleh udara.

Metode yang digunakan dalam pengambilan minyak atsiri dari kulit jeruk adalah steam distillation dengan pretreatment pengeringan oven pada bahan. Bahan yang digunakan adalah kulit jeruk manis (Citrus sinensis. L. Osbeck),air, etanol PA, larutan KOH 0.1016 N, dan indicator PP (Muhtadin, dkk., 2013). Air digunakan sebagai solvent untuk metode steam distillation. Selain itu,  juga digunakan sebagai proses pendinginan pada kondensor untuk distilat berupa campuran air dan minyak atsiri yang dihasilkan dari proses ekstraksi. Ethanol PA digunakan untuk mengondisikan pH 7 pada minyak atsiri dalam titrasi untuk analisa bilangan asam. Larutan KOH 0,1016 N digunakan sebagai penitran dalam titrasi untuk analisa bilangan asam. Indikator PP (Phenolpthalein) digunakan sebagai indikator dalam analisa bilangan asam. Indikator ini memiliki perubahan warna dari tidak bewarna ke merah muda seiring kenaikan pH (Muhtadin, dkk., 2013). Alat yang digunakan adalah Steam generator berupa labu leher dua Schot Duran ukuran 1000 mL, labu ekstraktor berupa labu leher tiga Schot Duran ukuran 1000 mL, erlenmeyer Pyrex ukuran 250 mL.

Pertama-tama kulit jeruk segar ditimbang sebanyak 400 gram. Kulit jeruk dikeringkan dengan menggunakan oven selama 12 jam dengan suhu 400C. Kulit jeruk yang segar maupun yang sudah dikeringkan dimasukkan dalam oven pada labu ekstraktor. Air  dimasukkan dan labu steam generator dipanaskan. Labu ekstraktor dipanaskan ketika uap dari steam generator mulai terbentuk. Laju pemanasan diatur pada proses penyulingan, ditunggu sampai tetes pertama keluar dari kondensor. Waktu ekstraksi dihitung mulai tetes pertama keluar dari kondensor. Proses dihentikan sesuai dengan variabel waktu yang ditentukan. Distilat ditampung dalam beaker glass. Minyak dipisahkan dari air dengan menggunakan corong pemisah, kemudian minyak tersebut ditampung pada tabung reaksi. Tabung reaksi yang berisi minyak disimpan ke dalam freezer (suhu 0oC) untuk mendapatkan minyak yang bebas dari air. Minyak yang bebas dari kandungan air tersebut diambil dengan pipet dan dipindahkan ke botol sampel. Tahapan selanjutnya adalah pembuatan parfum. Minyak kulit jeruk yang diperoleh dari proses ekstraksi dicampur menjadi satu dengan alcohol 200 cc, dan hekslin 10 cc lalu dimasukkan ke dalam botol, dikocok hingga merata. Sementara itu, di botol lain yaitu botol semprot diberi gas angina terlebih dahulu, minyak wangi kulit jeruk lalu dimasukkan kedalam botol semprot menggunakan alat suntil.

REFERENSI
Adnamazida, R. 2013. Kulit jeruk, 'sampah' yang baik bagi kesehatan. http://www.merdeka.com/sehat/kulit-jeruk-sampah-yang-baik-bagi-kesehatan.html. Diakses tanggal 14 Desember 2014.
Guenther, T. 1987. Minyak atsiri. Terjemahan oleh Ketaren, S. 1990. Jakarta: UI.
Istianto, M. dan Muryanti. 2014. Minyak Atsiri Jeruk :  Manfaat Dan Potensi Peningkatan Nilai Ekonomi Limbah Kulit Jeruk. Berita. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Balitbang Pertanian-Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kurniawan, A., Kurniawan C., Indraswati N., dan Mudjiati. 2008. Ekstraksi Minyak Kulit Jeruk Dengan Metode Distilasi, Pengepresan Dan Leaching. Widya Teknik 7(1) :(15-24).
Media Komunikasi dan Informasi Pusat Penelitian Biologi LIPI. 2009. Training and Workshop on Tissue Culture and Cell Based Assay for Anticancer Drug Discovery. Warta Kita; Edisi September. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Cibinong-Bogor.
Muhtadin, A.F., Wijaya R., Prihartini P., dan Mahfud. 2013. Pengambilan Minyak Atsiri dari Kulit Jeruk Segar dan Kering dengan Menggunakan Metode Steam Distillation. Jurnal Teknik Pomits 2(1) : 98-101.
Pracaya, 2000. Jeruk Manis, Varietas, Budidaya dan Pascapanen. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rini, P.E. 2009. Pasokan dan Permintaan Tanaman Obat Indonesia Serta Arah Penelitian dan Pengembangannya. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute. Bogor. Hlm 52-64.
Samson, J.A. 1986. Tropical Fruit. Longman. New York
Siburian, Rikson. 2008. Isolasi dan Identifikasi Komponen Utama Minyak Atsiri dari Kulit Buah Jeruk Manis              (Citrus sinensis L.) Asal Timor, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Natur Indonesia 11(1) : 9-13.
Simanihuruk, Naomi. 2013. Ekstraksi Minyak Atsiri Dari Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix D. C.) Di Balai Latihan Transmigrasi Pekanbaru Sebagai Bahan Aktif Minyak Gosok. Paper.
Simbolon, F. P. M., 2008. Pengaruh Konsentrasi Emulsi dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Buah Jeruk Manis (Citrus Sinensis, Linn). USU-Press, Medan.

Yuliani, S., dan S. Satuhu, 2012. Panduan Lengkap Minyak Atsiri. Penebar Swadaya. Jakarta.

link

sumber gambar
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuLP1zkLIw1A54hG5ctdR1tJjxGvascSzk3u4ORLX7qc1HcnDHMIFwT2uF2EGGH5M-GrGPLq9j1_sna5EgkUJ11G4WVZGZRrYVJj2euofBZUdZkH9axpmH8XRcJnNUPjGNhk5aB8rJ0_0/s1600/scrub-kulit-jeruk-untuk-mencerahkan-kulit.jpg

#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #kulit #jeruk #parfum #upaya #peningkatan #nilai #ekonomi #limbah #citrus #sinensis

Minggu, 13 April 2014

BIOTRANSFORMASI LOGAM KADMIUM (Cd)

sumber gambar http://www.childrensministryleader.com/wp-content/uploads/2014/11/transformation-2.jpg
Logam berat umumnya berasal dari proses alam atau akibat kegiatan manusia. Proses alam seperti perubahan siklus alamiah mengakibatkan batuan-batuan dan gunung berapi memberikan kontribusi yang sangat besar ke lingkungan (Suhendrayatna, 2001).Kadmium adalah logam kebiruan yang lunak, termasuk golongan II B table berkala, unsur ini bernomor atom 48, mempunyai bobot atom 112,41 g/mol dan densitas 8,65 g/cm3. Titik didih dan titik lelehnya berturut-turut 765oC dan 320,9oC.

Kadmium berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu yang panjang dan dapat terakumulasi pada tubuh khusunya hati dan ginjal. Kadmium juga merupakan logam berat yang bersifat toksik bagi sebagian besar organisme. Pada tumbuhan, kadmium dapat menghambat pertumbuhan dengan menginduksi terjadinya oksidasi sitokinin oleh sitokinin oksidase sehingga aktivitas sitokinin terhenti serta mempengaruhi aktivitas enzim peroksidase yang berperan dalam berbagai fungsi seluler.

Mikroorganisme memainkan peranan penting di banyak bidang industri dan teknologi, terutama di tanah-tanah bekas penambangan, pertanian, dan juga sebagai pengontrol sampah atau limbah buangan. Di daerah pertambangan, bakteri Thiobacillus ferrooxidans merupakan salah satu mikroorganisme penting. Bakteri ini termasuk pelarut (leaching) logam-logam dari bijih tambang, ditemukan pada daerah tambang yang telah didrainase dengan pH lingkungan masam, termasuk logam kadmium (Cd).

Peran bakteri Thiobacillus ferrooxidans  dalam mempengaruhi proses mobilisasi atau inmobilisasi unsur-unsur toksik logam Kadmium adalah melalui beberapa mekanisme berikut : (1). Kelat unsur oleh proses metabolisme; (2). Oksidasi-reduksi logam yang dipengaruhi daya larut atau valensi; (3). Perubahan pH yang mempengaruhi sifat ion, biosorpsi oleh kelompok fungsional pada permukaan sel; (4). Bioakumulasi oleh sistem transport energi; (5). Immobilisasi untuk membentuk bahan stabil, biometilasi, dan biodegradasi kompleks organik pada logam. Sebagai ilustrasi disajikan mekanisme pengolahan logam oleh mikroorganisme (Gazso, 2001).

#inggrit #amedia #inggritAmedia #biotranformasi #logam #cd #cadmium

Minggu, 21 Juli 2013

Tata Cara Pidato dan Presentasi Ilmiah (presentasi; ppt)



#inggrit #amedia #inggritAmedia #pidato #presentasi #ilmiah

Proses Fiksasi Nitrogen yang Dilakukan oleh Bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan Tanaman Kacang Kedelai.


Jelaskan proses fiksasi nitrogen yang dilakukan oleh bakteri rhizobium yang bersimbiosis dengan tanaman kacang kedelai.
Tanaman kedelai dapat mengikat nitrogen bebas  (N2) di atmosfer melalui aktivitas  bakteri  Rhizobium  japonicum. Rhizobium  japonicum  bersimbiosis  di  dalam  akar  kacang  dengan  membentuk nodula/bintil akar. Adanya bintil (nodul)  ini akan memberikan keuntungan  dalam  memfiksasi  nitrogen  dalam  tanah  serta  meningkatkan kesuburan tanah. Di dalam bintil itu, Rhizobium berbentuk bakteroid, yang terkandung di dalam kantung yang dibentuk oleh sel akar.
Pembentukan bintil akar terjadi antara 7 – 14 hari setelah  perkecambahan  dengan  membentuk  akar  rambut  pada  akar  primer  dan  sekunder. Akar mengeluarkan  senyawa  triptofan  yang  menyebabkan bakteri berkembang pada ujung rambut akar.  Triptofan diubah  oleh  rhizobium  menjadi  IAA  (Indole  Acetic Acid)  yang  menyebabkan  akar  membengkok  karena adanya  interaksi  antara  akar  dengan  Rhizobium. Kemudian bakteri merombak dinding sel akar tanaman sehingga  terjadi  kontak  antara  keduanya.  Benang infeksi  terbentuk,  yang merupakan perkembangan dari membran  plasma  yang memanjang  dari  sel  terinfeksi. Setelah  itu  rhizobium  berkembang  di  dalam  benang infeksi yang menjalar menembus sel-sel korteks sampai parenkim.  Di  dalam  sel  kortek,  rhizobium  dilepas  di dalam  sitoplasma  untuk  membentuk  bakteroid  dan menghasilkan  stimulan  yang  merangsang  sel  korteks untuk  membelah.  Pembelahan  tersebut  menyebabkan proliferasi  jaringan,  membentuk  struktur  bintil  akar yang  menonjol  sampai  keluar  akar  tanaman,  yang mengandung bakteri rhizobium.
Fiksasi  nitrogen  oleh  bakteri  pemfiksasi  nitrogen merupakan  suatu  proses  yang rumit dan bertahap. Secara ringkas reaksi pengikatan nitrogen sebagai berikut:
N2 + 8e- + 8 H+ + 16 ATP → 2 NH3 + H2 + 16 ADP + 16 Pi
Proses  fiksasi N oleh  leguminosa  tidak  mempengaruhi kualitas  air  tanah.  Hal  ini  karena  ammonium  (NH4+) yang  dihasilkan  oleh  hasil  fiksasi,  secara  langsung digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Pada  proses  penambatan  N, tanaman  leguminosa  menyediakan  lingkungan  dan karbohidrat  untuk  metabolisme  bakteri,  sedangkan bakteri  mengubah  N2  udara  menjadi  N  tersedia  bagi tanaman.  Flavonoids  dan/atau isoflavonoid dilepaskan dari akar  tanaman  leguminosa membuat  transkrip dari gene  rhizobia bintil akar yang sesuai,  kemudian  membentuk  molekul lipochitooligosaccharide,  yang  memberi  tanda  pada tanaman  leguminosa  untuk  mulai  membentuk  bintil akar. Walaupun  N2 masuk ke dalam sel tumbuhan bersama-sama CO2 lewat stomata, enzim yang ada hanya dapat mereduksi CO2  sehingga N2 keluar lagi secepat ia masuk. Sebagian besar ammonium yang dihasilkan melalui fiksasi nitrogen simbiotik digunakan oleh bintil untuk membuat asam amino, yang kemudian diangkut ke tunas dan daun melalui xylem.
Bakteri Rhizobium dan akar tanaman kedelai  memberikan respon terhadap sinyal kimia dari yang lainnya dengan cara mengekspresikan gen tertentu yang produknya memberi sumbangan pada pembentukan bintil. Tumbuhan memulai komunikasi itu ketika akarnya mensekresikan molekul yang disebut flavenoid, yang memasuki sel Rhizobium yang hidup disekitar akar tersebut. Kekhasan sinyal ini muncul dari variasi dalam struktur flavenoid. Sinyal tumbuhan itu akan memproduksi suatu molekul jawaban oleh bakteri. Secara spesifik, molekul sinyal tumbuhan itu akan mengaktifkan suatu protein yang mengatur gen, yang menghidupkan dan mengaktifkan suatu kelompok gen bakteri yang disebut nod, kependekan dari gen nodulasi. Produk gen ini adalah enzim yang mengkatalisis suatu molekul yang spesifik terhadapa spesies tertentu yang disebut faktor nod. Faktor nod yang disekresikan oleh bakteri membalas sapaan halo dan memberikan sinyal kepada akar untuk membentuk benang infeksi yang akan dimasuki oleh Rhizobium dan mulai membentuk suatu organ baru yaitu bintil akar. Respon tumbuhan memerlukan aktivasi gen yang disebut gen nodulen awal, barangkali melalui jalur transduksi sinyal yang mengatur gen.
Keberhasilan interaksi  ini memerlukan koordinasi dari kedua proses tersebut. Secara  umum,  proses  infeksi  dimulai dengan pengeritingan  rambut  akar,  yang  diduga  disebabkan oleh  reorientasi  gradual  dan  konstan  ke  arah pertumbuhan  bulu  akar . Bakteria  tertangkap  dalam  gulungan  bulu  akar,  kemudian  dinding sel tanaman di tempat tertentu terdegradasi, sel membran membentuk liang dan material baru disimpan  oleh tanaman dan bakteri. Enzim  dari  bakteri merombak  bagian  dinding  sel sehingga  bakteri  dapat masuk ke  dalam  sel  bulu akar. Kemudian,  bulu  akar  membentuk  struktur  lir-benang yang disebut benang infeksi, yang terdiri dari membran plasma  lurus  dan memanjang  dari  sel  yang  terserang, bersamaan  dengan  pembentukan  selulosa  baru  di sebelah  dalam  membran  ini.  Tiap  bakteri  yang membesar dan tak bergerak disebut bakteroid. Sel bintil akar  lazimnya  mengandung  beberapa  ribu  bakteroid. Bakteroid  menyebabkan  sel  korteks  dalam  dan  sel perisiklus membelah. Pembelahan dan pertumbuhan sel korteks  dan  perisiklus  menjadi  bintil  akar  dewasa. Bakteroid  biasanya  berada  di  sitoplasma  dalam kelompok,  masing-masing  dikelilingi  oleh  membran yang disebut membran peribakteroid. Antara membran peribakteroid  dan  kelompok  bakteroid  terdapat  daerah yang  disebut  ruang  peribakteroid.  Di  luar  ruang peribakteroid, di sitoplasma tumbuhan, terdapat protein yang  dinamakan  leghemoglobinLeghemoglobyn adalah suatu protein yang mengandung besi, seperti hemoglobin sel darah manusia, berkaitan secara reversibel dengan oksigen. Warna kemerahan bintil kacang kedelai disebabkan oleh leghemoglobyn. Leghemoglobyn bintil akar bertindak sebagai suatu buffer oksigen, yang mengatur persediaan oksigen untuk meningkatkan respirasi yang diperlukan oleh bakteri untuk menghasilkan ATP untuk fiksasi nitrogen.

#inggrit #amedia #inggritAmedia #fiksasi #nitrogen #rhizobium #simbiosis #kedelai

Sabtu, 20 Juli 2013

Teh Orchad PPT


#inggrit #amedia #inggritAmedia #teh #daun #sukun #mangga

Keterlibatan kolkisin dalam penghambatan Mitosis, Disusun oleh : Inggrit Amedia




#inggrit #amedia #inggritAmedia #kolkisin #penghambatan #mitosis

TEH ORCHAD; Setiap Teguk Orchad Seribu Manfaat Untuk Sehat (Original Idea)




#inggrit #amedia #inggritAmedia #teh #daun #sukun #mangga #biologi #tanaman #obat

Tapai (read: Tape) Ketan Putih


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Mikrobiologi adalah bidang ilmu yang mempelajari mikroorganisme. Dengan demikian, mikrobiologi pangan merupakan bidang ilmu yang mempelajari mikroorganisme pada pangan. Pemanfaatan mikroorganisme dalam pengolahan pangan mendapat tempat khusus di masyarakat, sejak dulu hingga saat ini. Hal tersebut dapat terjadi melihat potensi mikroorganisme yang dapat bersifat menguntungkan atau justru sebaliknya.
Pengolahan pangan dengan memanfaatkan mikroorganisme termasuk kedalam bioteknologi. Bioteknologi dibedakan atas bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Fermentasi merupakan contoh bioteknologi konvensional. Proses fermentasi sendiri merupakan salah satu proses respirasi anaerob, yang kebanyakan digunakan untuk perombakan makanan dimana tak melinatkan oksigen dalam prosesnya. Di Indonesia sendiri sudah banyak yang memanfaatkan proses fermentasi untuk pengolahan pangan, seperti tahu, kecap, tapai, yoghurt, nata de coco, tempe, dll.
Tapai merupakan salah satu contoh dari makanan hasil fermentasi secara konvensional. Bahan dasarnya dapat dari singkong, maupun beras ketan. Pada kesempatan kali ini, penulis akan memaparkan lebih banyak  tentang tapai ketan putih. Tapai ketan putih biasanya diproduksi secara rumahan, dan kemasannya pun masih terbilang tradisional yaitu dengan menggunakan pembungkus seperti daun pisang. Oleh karena proses pembuatan tapai dengan cara fermentasi, maka diupayakan kondisi tempat penyimpanannya harus dalam keadaan anaerobik, seperti dalam daun pisang tadi. Selain itu, penggunaan ragi sebagai media untuk mempercepat proses fermentasi pun harus sesuai dengan produk yang diinginkan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Tapai Ketan Putih
Beras ketan (Oryza sativa glutinosa) merupakan salah satu varietas dari padi dan termasuk famili Graminae (Kirk dan Othmer, 1954). Beras ketan bila dimasak nasinya mempunyai sifat sangat mengkilap, sangat lekat dan kerapatan antara butir nasi tinggi sehingga volume nasinya sangat kecil (Legowo, 1984). 
Tapai Ketan Putih merupakan makanan tradisional yang berbahan dasar beras ketan putih kemudian diproses dengan cara fermentasi dengan bantuan ragi. Ragi yang digunakan kali ini adalah ragi NKL, NKL merupakan kependekan dari Na Kok Liong, ragi ini khusus berada di daerah Semarang. Isolat yang terdapat dalam ragi adalah Chlamydomucor oryzae, Saccharomycopsis sp. 1, Saccharomyces sp.karakteristik isolat yang terdapat dalam ragi NKL dapat dilihat dalam tabel berikut :
No
Karakteristik Isolat
Hasil Identifikasi
Gambar Referensi
1.
Miselium  berwarna putih, tidak membentuk spora atau konidia, klamidiospora terdapat dalam jumlah banyak yang dibentuk di dalam hifa miselium terisolasi atau terletak dalam latikannya dengan ukuran yang berbeda-beda.
Chlamydomucor oryzae (kapang)

2.
Koloni berwarna putih krem, sel tumbuh membentuk miselium sejati, bersepta dan bercabang, dapat tumbuh pada suhu 37o C, dapat membentuk pati ekstraseluler, dapat melakukan fermentasi dan asimilasi (lemah) rafinosa, dekstrosa, sukrosa, dan maltosa.
Saccharomycopsis sp 1.

3.       
Koloni berwarna putih krem, licin, sel berbentuk oval atau bulat berukuran (6.75-13.5 mili mikron) x (6.75 – 27 milimikron), sel tunggal bergerombol, tidak membentuk pati eksraseluler.
Saccharomyces sp.


 Jumlah takaran antara bahan baku dan ragi menjadi hal yang harus diperhatikan agar mendapat produk dengan kualitas maksimal, karena nilai gizi dari bahan pangan fermentasi dapat meningkat dibandingkan bahan mentahnya. Selain itu, kemasan secara tradisional yaitu dengan menggunakan daun lehbih menguntungkan daripada menggunakan kemasan plastik (besek), karena daun dapat membantu proses peragian dan menghasilkan aroma tertentu.

3.1.Pengertian bioteknologi
Bioteknologi berasal dari kata latin yaitu bio (hidup), teknos (teknologi = penerapan) dan logos (ilmu). Bioteknologi adalah cabang biologi yang mempelajari pemanfaatan prinsip ilmiah dan rekayasa terhadap organisme, proses biologis untuk meningkatkan potensi organisme maupun menghasilkan produk dan jasa bagi kepentingan manusia.bisa diartikan juga, Bioteknologi adalah penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayas genetika secara terpadu untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia.
Bioteknologi dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu bioteknologi modern dan bioteknologi konvensional. Salah satu contoh dari bioeknologi konvensional adalah pembuatan tape ini. Dan salah satu contoh dari bioteknologi modern adalah rekayasa genetika.
Ciri-ciri utama bioteknologi adalah adnya benda biologi berupa benda mikro organisme tumbuhan atau hewan, adanya pendayagunaan secara teknologi dan industri, dan produk yang dihasilkan adalah hasil ekstraksi dan pemurnian.
Generasi pertama adalah bioteknologi sederhana yaitu penggunaan mikroba yang masih secara tradisional dalam produksi makanan dan tanaman ataupun pengawetan makanan, sebagai contoh yaitu pembuatan tempe, tape, cuka, dan lain-lain. Generasi kedua adalah proses berlangsung dalam keadaan tidak steril, sebagai contoh pembuatan kompos dan produksi bahan kimia. Generasi ketiga adalah proses dalam keadaan tidak steril, sebagai contoh produkasi antibiotic dan hormon. Generasi keempat adalah generasi bioteknologi baru, sebagai contoh produksi insulin.


3.2.Pengertian Fermentasi
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Fermentasi adalah salah satu reaksi oksidasi-reduksi dalam sistem biologi molekuler yang dapat menghasilkan dengan memanfaatkan senyawa organik sebagai donor dan akseptor elektron. Fermentasi tape ketan terjadi dalam kondisi anerobik fakultatif, yaitu dapat melakukan proses fermentasi dengan atau tidak ada oksigen. Tetapi, keberadaan oksigen dalam jumlah sedikit dapat mempercepat berlangsungnya proses fermentasi tersebut.

3.3.Fermentasi ketan putih
Secara rinci perubahan senyawa kimiawi utama yang terjadi dalam prosesfermentasi tape ketan adalah hidrolisis pati menjadi maltosa dan glukosa, karena bantuan kedua khamir (Endomycopsis fibuliger dan Chlamydomucor oryzae). Proses berikutnya glukosa akan difermentasi menjadi asam-asam organik dan etanol sehingga menimbulkan rasa dan aroma yang khasserta beraroma sangat kuat. Fermentasi tape ketan yang menggunakan ragi termasuk dalam jenis heterofermentasi karena menggunakan dua macam biakan mikroba yang berbeda. Selain itu pembuatan tape ketan yang merupakan proses fermentasi tersebut akan menghasilkan banyak keuntungan. antara lain, meningkatkan citarasa dari ketan dan menghasilkan aroma yang khas sehingga akan mempengaruhi kelezatan, juga meningkatkan kandungan gizinya.
Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi.


C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP
2.2. Alat dan Bahan Pembuatan Tapai Ketan Putih
       2.2.1. Alat
a.       Baskom
b.      Kompor
c.       Alat pengukus

        2.2.2. Bahan
a.       0.5 Kg Beras Ketan Putih
b.      1 buah ragi tape NKL
c.       Air putih bersih secukupnya
d.      Daun pisang

2.3. Proses Pembuatan Tapai Ketan Putih
a.       Beras Ketan Putih dicuci bersih
b.      Beras Ketan Putih direndam selama 12 jam
c.       Beras Ketan Putih dibilas lagi dengan air beberapa kali hingga bersih
d.      Beras Ketan Putih dikukus sampai matang
e.       Setelah matang diletakkan di atas baskom kemudian didinginkan, sambil dikipas-kipas
f.       Setelah dingin, nasi ketas kemudian dicampur ragi , dan diaduk sampai rata
g.      Nasi ketan dibungkus menggunakan daun pisang yang telah disiapkan
h.      Selanjutnya disimpan selama 2 sampai 3 hari untuk proses fermentasi

Proses cara membuat tape ketan putih adalah suatu proses fermentasi tape ketan oleh jamur Saccharomyces Cerivisiae yang mengubah karbohidrat fruktosa dan glukosa menjadi alkohol dan karbondioksida. Selain itu juga terdapat jamur mikroorganisme yang mengubah pati menjadi glukosa yaitu Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera 

Manfaat
Manfaat tape ketan putih yaitu bermanfaat bagi kesehatan tubuh karena mengandung bakteri asam laktat. Makanan tersebut bermanfaat untuk imunitas tubuh, menurunkan kolesterol dan menekan sel-sel kanker. Agar bakteri asam laktat tetap berada pada tape ketan maka harus disimpan dalam suhu yang dingin.
Sifat organoleptik yang dimiliki oleh Tapai juga sangat menarik dan tentunya khas yakni memiliki kenampakan warna putih bersih, bentuknya seperti umbi singkong pada umumnya saat dijajakan namun memiliki tekstur yang sangat empuk dan lembut saat dipegang atau saat dicicipi, memiliki rasa manis khas dan aroma yang cukup menarik dan tentunya mengugah siapa pun untuk menikmatinya. Tapai merupakan salah satu produk pangan hasil fermentasi yang tentunya dalam proses pembuatannya terjadi tahapan perombakan senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga membuat tapai baik untuk dikonsumsi karena senyawa yang terdapat dalah tapi menjadi lebih sederhana dan lebih mudah untuk dicerna dan diterima oleh tubuh dan tentunya baik juga untuk kesehatan. Oleh karena itu, selain menawarkan cita rasa yang unik, tapai juga menawarkan manfaat dari segi kandungan gizinya.