Selasa, 15 Maret 2016

Terbuang




Disana, entah 6x6 atau seberapa. Terperangkap dalam kubus kecil dengan terpaan segar angin pantai menelusup lewat celah jendela. Jika ini pantai, maka tentu kalimat selanjutnya adalah deruan ombak. Padahal deruannya tak pernah sampai di telinga Rani. Jelas saja, wanita 40-an itu tuli tak ketulungan. Buta pula.

Senja. Oh tidak! Senja masih tampak indah untuk segala kemuraman miliknya. Habis pikir aku dibuat wanita itu. Kalut, kusut, kacau untuk sekedar peduli memikirkannya. Untuk mengatakn anomali sungguh terlalu kurang ajar. Sekali kucoba menghampirinya. Ia tetiba berbicara, sederet kalimat keluar begitu saja. Tanpa ada tanya. Gaya bicaranya amat tenang tanpa gelombang, menentramkan. Tatapannya menyejukkan. Tapi untuk mengerti apa yang dibicarakannya, aku perlu merenung 3 hari 3 malam. Dan tak kuasa aku simpulkan. Semacam bahasa langit atau dari gua tanpa lubang masuk-keluar. Tidak konkret, jauh dari nalarku.

Hanya sekali itu aku mendengar suara Rani. Wanita 40-an tahun itu kini berbaring kaku dalam keranda. Tanpa keluarga terlebih kerabat. Diantarkan Pak RT dan para tetangga ke tempat persinggahan terakhirnya.


Siapa ini yang ada bersamaku, perlukah kita bicara, sementara hanya engkau yang mampu menikmati perbincangan ini. Saya hanya diijinkan-NYA untuk mengenal diri sendiri, bicara pada diri sendiri. Bertanya kemudian saya jawab sendiri. Apakah disini, di dunia ini, ada pesan yang dapat sampai tanpa perlu bicara, tanpa perlu didengar. Cukup dari hati ke hati. Dapatkah perkataan menjadi sebuah perhatian, tanpa perlu penegasan. Sudahkah kita berdamai dengan nurani, bertanya padanya dan peduli terhadapnya. Saya tidak keberatan dengan kesendirian disini.

15 Maret 2016
Kubus kecil, Jakarta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar