Kamis, 01 Januari 2015

LIJER PARFUM (Parfum Kulit Jeruk) Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Ekonomi Limbah Kulit Jeruk Citrus sinensis. L. Osbeck.) Oleh : Inggrit Amedia




Jeruk manis (Citrus sinensis. L. Osbeck.) termasuk dalam family Rutaceae, salah satu jenis citrus (Siburian, 2007). Tanaman ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis. Jeruk manis dapat beradaptasi dengan baik didaerah tropis pada ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut dan udara senantiasa lembab, serta mempunyai persyaratan air tertentu (Simbolon,2008). Jeruk manis banyak ditanam di daerah 20-400 LU dan 20-400 LS. Di daerah subtropis, ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 650 m dpl, sedangkan di sekitar khatulistiwa dapat ditanam sampai ketinggian 2.000 m dpl. Temperatur optimal pertumbuhannya antara 25-300C (Samson, 1986).

Buah jeruk memiliki komponen-komponen seperti flavedo, albedo, dan endocarp. Flavedo merupakan bagian yang memberikan warna pada kulit jeruk. Di dalam flavedo terkandung karoten yang memberi sifat warna kuning pada buah jeruk. Sekitar 60% karoten yang terdapat pada buah jeruk terdapat pada bagian ini. Di bagian ini juga terdapat gland yang mengandung minyak kulit jeruk. Albedo terletak di bawah flavedo. Albedo biasanya mempunyai lapisan yang tebal, putih dan seperti spon. Albedo terdiri atas sel-sel parenkim yang kaya akan substansi pektin dan hemiselulosa. Kombinasi antara albedo dan flavedo disebut pericarp yang sering dikenal sebagai kulit. Endocarp merupakan bagian buah yang dapat dimakan, di mana pada endocarp ini terdapat sejumlah segmen di dalamnya. Umumnya buah jeruk mempunyai 9-13 segmen. Di bagian dalam tiap-tiap segmen terdapat kantung sari buah (juice sacs) yang mempunyai membran relatif kuat dan mempunyai dinding sel tipis (Kurniawan, 2008).

Menurut Departemen Kesehatan RI (1989) Komposisi kimia per 100 gram buah jeruk manis antara lain karbohidrat (11 g), protein ( 0.8 g), lemak (0.2 g), kalsium (19 mg), fosfor (16 mg), vitamin A (190.0 SI), vitamin B (0,08 mg), vitamin C (49 mg) dan air (87,5 g). Komposisi buah jeruk terdiri dari bermacam - macam, diantaranya air 70-92 % (tergantung kualitas buah), gula, asam organik, asam amino, vitamin, zat warna, mineral dan lain-lain. Kandungan asam sitrat pada waktu cukup muda, tetapi setelah buah masak makin berkurang. Kandungan asam sitrat jeruk manis yang telah masak akan berkurang sampai duapertiga bagian (Pracaya, 2000).

Kulit buah jeruk manis tebalnya 0.3-0.5 cm, dari tepi berwarna kuning atau orange dan makin ke dalam berwarna putih kekuningan sampai putih, berdaging dan kuat melekat pada dinding buah (Rini, dkk., 2009). Kandungan kimia dalam kulit jeruk manis adalah saponin, tannin, flavonoid, dan terpenoid (Sari, 2008). Kulit buah jeruk manis memiliki bau yang khas aromatic dan rasa pahit yang mengandung minyak atsiri 90% yang berisikan limonin, glukosida-glukosida hesperidina, isohesperidin, auratiamarina, dan damar (Rini, dkk., 2009). Kulit buah jeruk segar mengandung sekitar 0,8% minyak atsiri dengan komponen utama sebagai berikut:  α-pinena (1,59%), β-pinena (7,29%), β-mirsena (4,59%), Oktanal (0,70%), Limonena (82,06%), Osimene (0,14%), 4-Thujanol (0,06%), 1-Oktanol(0,13%), β-Linalool (1,61%), α-limonena diepoksida (0,04%), 1,3,5-Tris (Metilena) sikloheptana (0,04), trans-p-2,8-Mentadien-1-ol (0,05), Sitronellal (0,13), 4-Metil-1-(1-Metiletil)-3-sikloheksen-1-ol (0,17), α-Terpineol (0,30),  trans-Piperitol (0,04), n-Dekanal (0,18), Β-Sitronello l(0,13), Karvona (0,05), Perillal (0,06), Nonanal (0,03), Elemena (0,14), α-Kariofilena (0,06), aR-(1aα,7α,7aα,7bα)-1a,2,3,5,6,7,7a,7b-Oktahidro-1,1,7,7a-tetrametil-1H-siklopropana naftalena (0,09), α Farnesena (0,06), α-Elemena (0,21), Germakrena B (0,07) (Agusta, 2000).

Minyak atsiri adalah senyawa yang mudah menguap yang tidak larut dalam air. Minyak atsiri merupakan ekstrak alami dari tanaman, baik yang berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian, ataupun kulit buah. Minyak ini dikenal dengan nama minyak eteris, minyak esensial atau minyak terbang karena mengandung senyawa organik golongan terpen yang mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi. Minyak atsiri memiliki rasa getir (pungent taste) dan berbau wangi yang sesuai dengan bau tanaman aslinya (Yuliani  & Satuhu, 2012). Industri memanfaatkan minyak atsiri sebagai campuran farfum. Peran minyak atsiri dalam campuran bukan hanya memberi keharuman, tetapi juga sebagai pengikat bau atau pixative farfum (Simanihuruk, 2013).

Minyak atsiri jeruk dapat digunakan sebagai pengharum ruangan, bahan parfum, dan mengubah citra rasa makanan menjadi lebih menarik.  Selain itu, minyak atsiri jeruk juga memiliki manfaat kesehatan yang digunakan sebagai aroma terapi.  Aroma jeruk dapat menstabilkan system syaraf, menimbulkan perasaan senang dan tenang, meningkatkan nafsu makan, dan penyembuhan penyakit. Manfaat bagi kesehatan disebabkan adanya kandungan senyawa penyusun, antara lain : Limonen berfungsi melancarkan peredaran darah, meredakan radang tenggorok dan batuk serta menghambat sel kanker. Linalool, sitronel, terpineol, dan linalilasetat dapat bersifat sebagai penenang (sedatif) (Istianto & Muryati, 2014). Minyak kulit jeruk merupakan minyak aromatis yang terdapat pada gland di bagian kulit buah jeruk. Menurut Kurniawan, (2008), dalam minyak kulit jeruk umumnya terkandung limonene(95%), myrcene(2%), noctanal(1%), pinene(0,4%), linanool(0,3%), decanal(0,3%), sabiene(0,2%), geranial(0,1%), neral(0,1%), dodecanal(0,1%), dan senyawa-senyawa lainnya (0,5%)

Adanya kandungan minyak atsiri dalam kulit jeruk memungkinkan untuk meningkatkan nilai ekonomis limbah kulit jeruk.  Salah satunya dengan memanfaatkan kandungan minyak atsiri pada kulit jeruk menjadi parfum. Parfum berasal dari bahasa Latin yang berarti “per” “melalui” dan “fumum,” atau “asap.” Parfum kuno dibuat dengan mengekstraksi minyak alami dari tanaman melalui menekan dan mengukus. Minyak ini kemudian dibakar untuk mengharumkan udara. Saat ini, parfum paling digunakan untuk aroma sabun. Beberapa produk bahkan wangi dengan aroma industri untuk menutupi bau tak sedap atau muncul “wewangian”.

Ada beberapa cara teknik ekstraksi untuk mendapatkan minyak atsiri yaitu hydro distillation dan steam distilation. Rendemen yang didapat dengan proses hydro distillation sekitar 0,35-0,37 %, terkadang terjadi proses hidrolisis ester, dan produk minyaknya bercampur dengan hasil sampingan. Proses yang dilakukan untuk memperoleh minyak kulit jeruk terdiri dari 2 tahap yaitu perlakuan pendahuluan dan pemisahan minyak kulit jeruk. Perlakuan pendahuluan dilakukan dengan pengecilan ukuran (size reduction), dan pengeringan kulit jeruk. Untuk proses pengeringan sebaiknya dilakukan pada suhu rendah dengan menggunakan udara kering sebagai medium pengering supaya komposisi, dan aroma minyak kulit jeruk tidak berubah karena teroksidasi oleh udara.

Metode yang digunakan dalam pengambilan minyak atsiri dari kulit jeruk adalah steam distillation dengan pretreatment pengeringan oven pada bahan. Bahan yang digunakan adalah kulit jeruk manis (Citrus sinensis. L. Osbeck),air, etanol PA, larutan KOH 0.1016 N, dan indicator PP (Muhtadin, dkk., 2013). Air digunakan sebagai solvent untuk metode steam distillation. Selain itu,  juga digunakan sebagai proses pendinginan pada kondensor untuk distilat berupa campuran air dan minyak atsiri yang dihasilkan dari proses ekstraksi. Ethanol PA digunakan untuk mengondisikan pH 7 pada minyak atsiri dalam titrasi untuk analisa bilangan asam. Larutan KOH 0,1016 N digunakan sebagai penitran dalam titrasi untuk analisa bilangan asam. Indikator PP (Phenolpthalein) digunakan sebagai indikator dalam analisa bilangan asam. Indikator ini memiliki perubahan warna dari tidak bewarna ke merah muda seiring kenaikan pH (Muhtadin, dkk., 2013). Alat yang digunakan adalah Steam generator berupa labu leher dua Schot Duran ukuran 1000 mL, labu ekstraktor berupa labu leher tiga Schot Duran ukuran 1000 mL, erlenmeyer Pyrex ukuran 250 mL.

Pertama-tama kulit jeruk segar ditimbang sebanyak 400 gram. Kulit jeruk dikeringkan dengan menggunakan oven selama 12 jam dengan suhu 400C. Kulit jeruk yang segar maupun yang sudah dikeringkan dimasukkan dalam oven pada labu ekstraktor. Air  dimasukkan dan labu steam generator dipanaskan. Labu ekstraktor dipanaskan ketika uap dari steam generator mulai terbentuk. Laju pemanasan diatur pada proses penyulingan, ditunggu sampai tetes pertama keluar dari kondensor. Waktu ekstraksi dihitung mulai tetes pertama keluar dari kondensor. Proses dihentikan sesuai dengan variabel waktu yang ditentukan. Distilat ditampung dalam beaker glass. Minyak dipisahkan dari air dengan menggunakan corong pemisah, kemudian minyak tersebut ditampung pada tabung reaksi. Tabung reaksi yang berisi minyak disimpan ke dalam freezer (suhu 0oC) untuk mendapatkan minyak yang bebas dari air. Minyak yang bebas dari kandungan air tersebut diambil dengan pipet dan dipindahkan ke botol sampel. Tahapan selanjutnya adalah pembuatan parfum. Minyak kulit jeruk yang diperoleh dari proses ekstraksi dicampur menjadi satu dengan alcohol 200 cc, dan hekslin 10 cc lalu dimasukkan ke dalam botol, dikocok hingga merata. Sementara itu, di botol lain yaitu botol semprot diberi gas angina terlebih dahulu, minyak wangi kulit jeruk lalu dimasukkan kedalam botol semprot menggunakan alat suntil.

REFERENSI
Adnamazida, R. 2013. Kulit jeruk, 'sampah' yang baik bagi kesehatan. http://www.merdeka.com/sehat/kulit-jeruk-sampah-yang-baik-bagi-kesehatan.html. Diakses tanggal 14 Desember 2014.
Guenther, T. 1987. Minyak atsiri. Terjemahan oleh Ketaren, S. 1990. Jakarta: UI.
Istianto, M. dan Muryanti. 2014. Minyak Atsiri Jeruk :  Manfaat Dan Potensi Peningkatan Nilai Ekonomi Limbah Kulit Jeruk. Berita. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Balitbang Pertanian-Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kurniawan, A., Kurniawan C., Indraswati N., dan Mudjiati. 2008. Ekstraksi Minyak Kulit Jeruk Dengan Metode Distilasi, Pengepresan Dan Leaching. Widya Teknik 7(1) :(15-24).
Media Komunikasi dan Informasi Pusat Penelitian Biologi LIPI. 2009. Training and Workshop on Tissue Culture and Cell Based Assay for Anticancer Drug Discovery. Warta Kita; Edisi September. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Cibinong-Bogor.
Muhtadin, A.F., Wijaya R., Prihartini P., dan Mahfud. 2013. Pengambilan Minyak Atsiri dari Kulit Jeruk Segar dan Kering dengan Menggunakan Metode Steam Distillation. Jurnal Teknik Pomits 2(1) : 98-101.
Pracaya, 2000. Jeruk Manis, Varietas, Budidaya dan Pascapanen. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rini, P.E. 2009. Pasokan dan Permintaan Tanaman Obat Indonesia Serta Arah Penelitian dan Pengembangannya. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute. Bogor. Hlm 52-64.
Samson, J.A. 1986. Tropical Fruit. Longman. New York
Siburian, Rikson. 2008. Isolasi dan Identifikasi Komponen Utama Minyak Atsiri dari Kulit Buah Jeruk Manis              (Citrus sinensis L.) Asal Timor, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Natur Indonesia 11(1) : 9-13.
Simanihuruk, Naomi. 2013. Ekstraksi Minyak Atsiri Dari Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix D. C.) Di Balai Latihan Transmigrasi Pekanbaru Sebagai Bahan Aktif Minyak Gosok. Paper.
Simbolon, F. P. M., 2008. Pengaruh Konsentrasi Emulsi dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Buah Jeruk Manis (Citrus Sinensis, Linn). USU-Press, Medan.

Yuliani, S., dan S. Satuhu, 2012. Panduan Lengkap Minyak Atsiri. Penebar Swadaya. Jakarta.

link

sumber gambar
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuLP1zkLIw1A54hG5ctdR1tJjxGvascSzk3u4ORLX7qc1HcnDHMIFwT2uF2EGGH5M-GrGPLq9j1_sna5EgkUJ11G4WVZGZRrYVJj2euofBZUdZkH9axpmH8XRcJnNUPjGNhk5aB8rJ0_0/s1600/scrub-kulit-jeruk-untuk-mencerahkan-kulit.jpg

#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #kulit #jeruk #parfum #upaya #peningkatan #nilai #ekonomi #limbah #citrus #sinensis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar