Sabtu, 23 Februari 2013

Laporan Praktikum Lapangan Sistematika Hewan


LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN SISTEMATIKA HEWAN


III. METODELOGI
3.1. ALAT dan BAHAN
3.1.1. ALAT
            3.1.1.1. Jaring ikan
            3.1.1.2. Plastik
            3.1.1.3. Ember
            3.1.1.4. Gayung
            3.1.1.5. Toples
            3.1.1.6. Senter
            3.1.1.7. Trap
            3.1.1.8. Label
            3.1.1.9. Etiket
            3.1.1.10. monokuler
            3.1.1.11. binokuler
            3.1.1.12. alat tulis
            3.1.1.13. jaring kupu-kupu
            3.1.1.14. kamera digital
            3.1.1.15.  jarum
            3.1.1.16. amplop
            3.1.1.17. botol spesimen
            3.1.1.18. suntikan
            3.1.1.19. sterofom
3.1.2. bahan
3.1.2.1. formalin
3.1.2.2. alkohol
3.2 cara kerja
3.2.1. praktikum lapangan dilakukan di pantai Bandengan
3.2.1.1. praktikum dilakukan di pantai Bandenan Jepara
3.2.1.2. berbagai spesies dari mollusca dan pisces dicari di sepanjang tepi pantai
3.2.1.3. spesies dari kelas pisces ditangkap dengan menggunakan jaring
3.2.1.4. spesies disimpan di plastik
3.2.1.5. spesies dibuat awetan menggunakan formalin
3.2.1.6. spesies di beri label atau etiket
3.2.1.7. spesies di identifikasi dan diawetkan kembali menggunakan alkohol
3.2.1.8. spesimen dicari klasifikasi dan deskripsinya.
3.2.2. praktikum nocturnal di kampus
3.2.2.1. pencarian spesies amphibi reptil dan mamalia di lakukan di kampus FSM UNDIP
3.2.2.2. trap untuk mamalia dipasang di lab lantai 2 biologi
3.2.2.3. spesies dari amphibi dan reptil ditelusuri di luar gedun dekanat FSM
3.2.2.4. spesies ditangkap dan disimpan di plastik
3.2.2.5. spesies di bius hingga mati menggunakan alkohol dan diidentifikasi
3.2.2.6. spesies di beri label atau etiket
3.2.2.7. spesimen diawetkan menggunakan alkohol
3.2.2.9. spesimen dicari klasifikasi dan deskripsinya.
3.2.3. praktikum dikampus (siang hari)
3.2.3.1. pencarian spesies kelas insecta dilakukan di daerah fakultas ekonomi
3.2.3.2. spesies ditangkap dan disimpan di plastik
3.2.3.3. spesies di bius hingga mati menggunakan alkohol dan diidentifikasi
3.2.3.4. spesies di beri label atau etiket
3.2.3.5. spesimen diawetkan menggunakan alkohol
3.2.3.6. spesimen dicari klasifikasi dan deskripsinya.

IV. PEMBAHSAN

4.1. Labiostrombus epidromus

Klasifikasi :

Filum           : Mollusca
 Kelas              : Gastropoda
   Subclass          : Orthogastropoda
    Superorder      : Caenogastropoda
     Order               : Sorbeoconcha
        Suborder         : Hypsogastropoda
           Superfamili      : Stromboidea
              Famili              : Strombidae
                Genus              : Labiostrombus
                   Spesies            : Labiostrombus epidromus ( Hickman , 2003 ).

Labiostrombus epidromus memiliki warna putih murni. Dapat ditemukan di ± 35 meter air di atas permukaan laut. Labiostrombus epidromus adalah salah satu kelompok dari mollusca, masuk kedalam kelompok yang sering disebut sebagai conchs,atau lebih umum disebut Strombs, Strombus adalah kerang kerang yang besar. Jumlah spesies dalam jumlah keluarga sekitar 60 spesies, yang kecil dibandingkan dengan keluarga molluscan lainnya. Namun perbedaan ukuran antara spesies Strombus terbesar dan terkecil adalah besar. Beberapa tumbuh menjadi yang terbesar dan terberat dari moluska laut seperti Eustrombus goliath. Shell tercatat terbesar adalah sekitar 380 milimeter. Di ujung lain dari spektrum ukuran Strombus Helli, spesies yang jarang mencapai 25 milimeter panjang. Sebuah tampilan komprehensif Strombs cukup indah. Beberapa spesies dapat bervariasi dalam warna dan membuat untuk tampilan eye-catching. Keluarga ini juga terdiri dari multi-digit Lambis, para conchs Spider.Mayoritas spesies ini terdapat di seluruh Indo-Pasifik, dengan beberapa spesies yang ditemukan di Hindia Barat dan dari Mediterania ke bawah melalui Afrika Barat. Umumnya Labiostrombus epidromus kebanyakan hidup di pasir dan lingkungan yang pasang surut di daerah tropis. Memiliki kaki yang kuat dan operkulum yang berbentuk sabit sehinnga memungkinkan untuk menggali dengan cepat dan dalam ke substrat berpasir untuk perlindungan dan selama periode pertumbuhan cangkang ( Manter , 1959 ).


4.2 Rhyothemis Phyllis

Filum       : Arthropoda
  Kelas          : Insecta
   Ordo           :Odonata
    Subordo     :Anisoptera
     Family        :Libellulidae
      Genus         :Rhyothemis
        Species       :Rhyothemis Phyllis ( Hickman , 2003 ).

Capung yang memiliki bentuk sangat cantik dan menarik. Capung jantan memiliki wajah yang berwarna hitam. Mata bagian atas berwarna merah tua dengan bagian bawah dan samping berwarna kuning kecoklatan. Toraks berwarna hitam keemasan-hijau metalik dengan kaki hitam. Sayap memiliki corak yang begitu indah, sayap depan transparan dengan ujung berwarna hitam dan bagian tengah terdapat sedikit warna hitam. sayap belakang memiliki ujung yang berwarna hitam dengan pangkal berwarna hitam-kuning-hitam. Wingspot berwarna hitam dan abdomen juga berwarna hitam. Betina mirip dengan jantan biasanya lebih gemuk. Biasanya capung ini dapat ditemui di dataran rendah sampai ketinggian 700 mdpl. Terbang rendah kemudian hinggap pada ranting/ kayu dan terkadang juga teramati terbang tinggi dalam kelompok yang cukup besar. Dapat ditemukan di daerah Asia Tenggara termasuk Indonesia ( Iskandar , 1989 ).

4.3. Locusta migratoria


  Filum            :arthropoda
   Kelas                :insecta
    Ordo                : orthoptera
     Sub ordo         :caelifera
      Family             :acrididae
       Subfamili         :oedipodinae
        Genus              :locusta
         Spesies            :Locusta migratoria ( Hickman , 2003 ).

Locusta migratoria merupakan salah satu jenis dari belalang yang dikenal juga dengan nama belalang kembara. Locusta migratoria adalah anggota dari suku Acridiidae, bangsa Orthoptera. Jenis belalang ini memiliki panjang. tubuh 4,4 cm, Memiliki Elytra panjang mengkilat sayap berwarna tanpa bands tibia belakang kekuningan atau merah. Locusta migratoria adalah jenis serangga yang dapat berkembang biak dengan cepat akibat dari perubahan iklim. Dalam kondisi lingkungan yang demikian, belalang mendapatkan kondisi lingkungan yang sesuai. Kondisi lingkungan yang baik untuk belalang kembara berkembang biak adalah ketika melimpahnya tanaman inang dan setelah terjadinya hujan yang tinggi atau pada musim penghujan. Dalam kehidupannya, belalang jenis ini mengalami beberapa fase transformasi; dimulai dari fase soliter, fase transsien sampai fase gregarius. Fase soliter adalah fase belalang tidak menjadi hama, warnatubuhnya hijau. Fase gregarius adalah belalang yang dapat menjadi hama, warna tubuhnya kecoklatan. Belalang kembara merupakan serangga pemakan daun “Fitophagus”, dan dengan perkembangannya yang begitu cepat dapat mengakibatkan kerusakan terhadap tanaman, sehingga menjadi ancaman utama dan hama bagi tanaman pertanian. Hama belalang kembara merupakan hama jenis serangga yang menjadi kendala dan masalah bagi petani di Indonesia. Jika populasi belalang kembara ini sangat tinggi, maka dapat menyerang tanaman holtikultura sampai dengan tanaman kelapa sawit.  Tanaman yang diserang dan dirusak adalah padi, jagung, tebu, kelapa dan lain sebagainya. Dalam sejarah, belalang adalah serangga yang dapat dimakan dan dianggap lezat di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, maka Indonesia juga memiliki kekayaan jenis belalang yang beranekaragam. Sama seperti belalang jenis Valanga nigricornis, belalang jenis Locusta migratoris juga dimakan sebagai sumber protein alternatif bagi masyarakat. Belalang jenis Locusta migratoria merupakan hama bagi pertanian, namun disisi lain belalang ini dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi ( Storer , 1957).

4.4. Lonchura leucogastra

Filum            : Chordata
  Kelas                 : Aves
    ordo                 : Passeriformes
      famili               : Estrildidae
       genus               : Lonchura
         spesies             : Lonchura leucogastra ( Crome, 1991 )

Burung pipit dada putih atau biasa disebut burung perit (Lonchura leucogastroides). Memiliki Ciri – ciri tubuh memiliki warna coklat tua di punggung, sayap dan sisi atas tubuhnya, tanpa coretan-coretan. Muka, leher dan dada atas berwarna hitam; dada bawah, perut dan sisi tubuh putih bersih, nampak kontras dengan bagian atasnya. Sisi bawah ekor kecoklatan. Habitat di areal persawahan, daerah aliran sungai dan pohon yang rimbun.Burung ini biasanya bersarang di pohon rimbun seperti: cemara, pohon mangga, dan di pohon bambu buluh yang ada di daerah aliran air. Burung ini biasanya menghasilkan anak 2 – 4 ekor. Makanan berupa biji – bijian ( Iskandar, 1989)


REFERENSI
Hickman,C.P., L. S. Roberts dan A. Larson. 2003. AnimalDiversity. McGraw-Hill Companies, Inc . North America.
Iskandar, J. 1989. Jenis Burung yang Umum di Indonesia. Djambatan Anggota IKAPI. Jakarta.
Crome, Francis H.J. (1991). Forshaw, Joseph. ed. Encyclopaedia of Animals: Birds. Merehurst Press . London.
Manter & Miller. 1959. Introduction to Zoology. Harper and Row Publisher. New York.
Storer, I. Tracy; Usinger, Robert L. 1957. General of Zoology. New York: Mc Graw Hill Book Company Inc.

#inggrit #amedia #inggritAmedia #praktikum #lapangan #sistematika #hewan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar