Rabu, 18 Desember 2013

Seorang Ayah dan Anaknya


11.05, lima menit sebelum perkuliahan mikrobiologi industri dimulai. Mahasiswa masih bercengkrama satu sama lain. Tiba-tiba dosen pengampu lewat, dan meminta mahasiswa untuk meminjam LCD ke birokrasi.

Maklum, kondisi kampus yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Banyak LCD rusak yang masih terpasang di langit-langit kelas. Untuk peminjaman pun terbilang sulit. Pernah suatu ketika dosen kami tak jadi mengajar karena terlalu kesal keluhannya setelah sekian lama tak didengar, tak ada LCD. Kadang juga mahasiswa dibuat berkeringat terlebih dahulu karena harus turun naik lantai tiga tanpa lift ataupun eskalator untuk meminjam LCD kesana-kemari. Jawaban sang pemegang kuasa hanya satu “sedang diusahakan, untuk LCD sedang dicoba lelang”. Padahal problema LCD ini sudah dirasakan sejak setahun yang lalu. Mungkin jika prosedurnya mudah dan dipastikan ada mahasiswa takkan semalas itu untuk sekedar meminjam LCD demi perkuliahan.
 Tidak ada satupun mahasiswa yang berinisiatif untuk bergerak meminjam LCD tadi. Biasanya yang menjadi tumbal adalah mahasiswa (red : pria). Ketika itu hanya ada seorang mahasiswa (pria) yang ada ditempat. Salah seorang  meminta si mahasiswa tadi, agaknya kali ini berbeda, si mahasiswa tampak sedang dalam kondisi badan yang kurang baik, dan sontak si mahasiswa menolak. Mereka kembali kepada aktivitas masing-masing, tentang LCD tadi sepertinya terlupakan. 2 menit, 4 menit,6 menit, 8 menit, sampai 10 menit kemudian suasana menjadi tegang kembali. Seakan ada alarm mengingatkan kepada si LCD. Sepuluh menit berlalu,mahasiswa (pria) yang datang sudah lumayan banyak. Dan sama saja, tidak ada satupun diantaranya yang “bergerak”, sampai terdengar ocehan dari mulut seorang wanita berkata emang ya 2011 gak ada cowoknya !!!” wanita tadi berlaga bak artis yang antagonis. Dia berseru kepada teman-temannya. Oke, itu ekstrim !

Disisi lainnya, seorang mahasiswa yang bertindak sebagai “kepala” dari mahasiswa-mahasiswa tadi nampak kesal. Mungkin dalam hatinya bertanya “mengapa harus saya?” Setiap ada kebutuhan mengenai perkuliahan ataupun kegiatan, dialah orang pertama yang akan ditanyai, dialah orang pertama yang akan disalahkan ketika terjadi kecacatan, dialah orang yang wajib datang paling awal, dan teruslah tuntutan itu dilimpahkan padanya. Sederhana sebenarnya, dia hanya butuh kontribusi.

Baiklah, itu tadi gambaran keluarga kami, angkatan 2011. Rasanya, ingin membenarkan perkataan seseorang ketika kami maba dulu,
“ini (PMB) adalah momen dimana kalian bisa berkumpul dengan angkatan kalian, saling membantu, bekerjasama, membangun kasih sayang. Setelah PMB selesai, akan sulit menemukan momen ini kembali, inilah kuantitas terbanyak kalian saling berinteraksi”
Benar saja. Saat ini untuk kumpul bersama, full team, ternyata tidak bisa. Mungkin ketika KKL kemarin atau saat praktikum lapangan dulu. Iya, itu saja. Selebihnya, terkotak-kotak. Dimataku, komting kami sudah berusaha banyak, dia benar-benar meluangkan waktunya untuk mengurusi angkatan. Dia sempatkan diri untuk hadir disetiap kegiatan, dialah orang yang berkeringat sebelum kuliah dimulai, dialah orang yang paling banyak disalahkan. Aku mengerti segala keluhnya yang tak sempat dia katakan, aku melihat kekesalan dimatanya saat hanya segelintir orang yang meluangkan waktu untuk rapat angkatan, untuk mendukung angkatan dalam event tertentu, bahkan pernah suatu ketika dia rela ikut main kelapangan disaat kakinya bengkak membiru.

Seperti seorang Ayah dengan anaknya. Komting berperan sebagai ayah, dan yang lain sebagai anaknya. Begitu banyak tuntutan dari si anak, ini itu semuanya harus dituruti. Si anak akan marah ketika pintanya tak dipenuhi. Bahkan sampai tak dianggap ayah, seperti contoh seorang wanita tadi yang mengatakan emang ya 2011 gak ada cowoknya !!!”  padahal hanya pada saat itulah ayah tidak memenuhi mau si anak. Sebaliknya, si ayah hanya meminta anaknya untuk berkumpul mendukung satu sama lain, anak-anak sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Maka tidaklah salah jika sewaktu-waktu kekesalan itu terjadi. Mereka, otret ayah dan anak bagiku.

#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #cerita #seorang #ayah #anaknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar