Minggu, 15 Desember 2013

Review Jurnal Application of Aquaculture Natural Food Produce by Protoplast Fusion Process of Dunaliella salina and Phaffia rhodozyma


Application of Aquaculture Natural Food Produce by Protoplast Fusion Process  of  Dunaliella salina and Phaffia rhodozyma
Oleh: Hersugondo  , Hermin Pancasakti Kusumaningrum , Muhammad Zainuri .
Reviewer : Inggrit Amedia

Kondisi saat ini adalah petani tambak (udang) cenderung statis dalam produksi udang mereka. Faktor penentu  utama tentunya adalah pakan. Diperlukan adanya diversifikasi pakan untuk mendapatkan bobot maksimal dalam jangka waktu yang diperlukan karena kebutuhan pasar udang termasuk tinggi. Pakan yang mengandung karoenoid (β-karoten dan astaxantin) terbukti dapat meningkatkan bobot dalam jangka waktu tertentu. Namun, pakan yang mengandung karotenoid biasanya sulit dijangkau. Oleh karena itu, fusi protoplas menjadi solusi yang terbaik. Fusi dilakukan pada alga Dunaliella salina dan khamir Paffia rhodozyma. Dunaliella salina diketahui mangandung beta β-karoten yang disebut 9-cis-β-karoten dan zeaxanthin. 9-cis-β-karoten berfungsi untuk mencegah kanker (10x lebih kuat dari β-karoten biasa), sedangkan zeaxanthin berfungsi sebagai antioksidan yang baik dalam membantu mencegah dan mengobati kondisi kehilangan penglihatan. Setiap 1 mg D. salina mengandung 6 mg Zeaxanthin, lebih besar daripada tanaman lainnya yang hanya mengandung 0.2 mg.  P. rhodozyma adalah produsen terbesar astaxantin. Astaxantin penting bagi kesehatan udang dan meningkatkan immunologi. Kedua senyawa yang dihasilkan dari dua spesies yang berbeda tadi digabungkan melalui fusi protoplas intraspesies sebagai pakan alami budidaya udang atau Crustaceae lainnya.

D salina dikultur dengan dengan media walne (hasil modifikasi dari Bidwell & Spotte) dengan kondisi pencahayaan intensif 600 lux. P rhodozyme ditumbuhkan dalam medium yang berbeda. Spesies kemudian diisolasi, difusikan, dan diregenerasi. Untuk mengetahui hasil fusi, maka rekombinan fusi diujikan kepada udang windu (Penaeus monodon Fabricius) usia 60 hari dan berat 0.2-0.5. makanan diberikan dalam bentuk alami (D. salina), rekombinan dalam bentuk pellet (berbagai sel rekombinan fusi), dan makanan komersial sebagai kontrol. Setiap 2 hari bobot tubuh ditimbang untuk merumuskan diet kaya karotenoid yang memiliki produksi unggul.

Penelitian ini telah membuktikan bahwa teknik fusi berhasil menyediakan alternatif pakan yang lebih terjangkau, aman, dan mudah. P. rhodozyma menghasilkan astaxantin dengan pigmen utama merah oranye. Perbedaan yang signifikan terlihat dari komposisi total pigmennya, pada P. rhodozyma liar <500 µg/g, sedangkan pada rekombinan fusi protoplas mencapai 12.412 µg/g. Kultivasi P. rhodozyma menunjukkan siklus hidupnya adalah 24-80 jam pada suhu ruang. D. salina mampu menghasilkan β-karoten dibawah penerangan, suhu 26o, dan air asin. Siklus hidup D. salina adalah 7 hari dibawah penerangan. Sel pada fase logaritmik berwarna hijau terang dan pada fase stasioner berubah menjadi warna hijau kekuningan terkait dengan pembentukan karotenoid . Kerapatan sel tertinggi dicapai pada hari ke-3 dan mulai menurun pada hari ke-4 . Total produksi pigmen tertinggi mencapai 111.16 µg/g atau setara  dengan 3.3-15.56 µg/g β-karoten.

Fusi protoplas antara D. salina dan P. rhodozyma telah menghasilkan sel dan koloni rekombinan dengan jenis yang berbeda seperti bentuk rekombinan D. salina tapi merah seperti P. rhodozyma , bentuk rekombinan sebagai P. rhodozyma tapi hijau seperti D. salina , rekombinan dan berbentuk berwarna seperti P. rhodozyma tapi mampu bergerak aktif seperti D. salina , rekombinan berbentuk dan berwarna seperti D. salina tetapi non - motil seperti P. rhodozyma , berbentuk , berwarna dan bergerak seperti D. salina namun mampu hidup di air tawar, berbentuk, berwarna dan non-motil sebagai P. rhodozyma namun mampu hidup di air asin, berbentuk, berwarna, bergerak seperti D. salina dan dapat hidup di air tawar, tetapi poliploidi, berbentuk, berwarna, bergerak seperti P. rhodozyma dan dapat hidup di air tawar tapi poliploidi , dan sebagainya. Berbagai variasi yang muncul mengindikasikan bahwa mereka telah memperoleh berbagai jenis rekombinan menguntungkan untuk digunakan sebagai sumber makanan alami.  Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran berat udang pada grafik menunjukkanberat keseluruhan udang cenderung meningkat dalam penyediaan berbagai diversifikasi pakan fusi protoplas. Hasil yang diperoleh menunjukkan telah diperilehnya makanan kaya karotenoid dapat digunakan sebagai sumber pakan.

Penambahan pakan buatan dengan makanan alami yang kaya akan karotenoid membentuk rekombinan fusi antara D. salina dan P. rhodozyma dapat meningkatkan berat udang dan kelangsungan hidup dibandingkan dengan pakan buatan dan makanan alami saja. Mereka memiliki pertumbuhan yang stabil di air tawar dan air asin, dapat berkembang biak secara alami dan aman untuk hewan konsumsi perikanan dan juga lingkungan.


#Inggrit #Amedia #InggritAmedia #review #jurnal #fusi #protoplas #Dunaliella #salina #Phaffia #rhodozyma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar